Pendekatan dalam Mengapresiasi Sastra

Pendekatan diartikan sebagai proses membuat atau cara mendekati, diartikan pula sebagai usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan objek yang diteliti atau metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Sedangkan mengapresiasi adalah memberikan pengertian, pemahaman, dan penghargaan. Jadi mengapresiasi sastra adalah seluruhkegiatan yang berusaha memberikan penilain makna yang diemban pengarang. Dalam mengapresiasi sastra 4 tipe pendekatan berdasarkan keseluruhan situasi karya sastra, alam (universe) pembaca, pengarang (artist), dan karya sastra, yaitu pendekatan mimetik, pendekatan ekspresif, pendekatan pragmatik, dan pendekatan objektif.

Pendekatan dalam Karya Sastra

 1. Pendekatan Mimetik
 Pendekatan mimetik ialah pendekatan yang menganggap karya sastra itu merupakan tiruan, cerminan, ataupun resperentasi alam maupun kehidupan atau dunia ide. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” representasi objek-objek yang digambarkan ataupun yang hendak digambarkan.

Pandangan tentang mimetic pertama kali diungkapkan oleh filsuf terkenal yaitu Plato yang kemudian diungkapkan lagi oleh muridnya yaitu Aristoteles. Plato berpendapat bahwa seni hanyalah tiruan alam yang nilainya jauh di bawah kenyataan dan ide. Menurutnya lagi, seni adalah sesuatu yang rendah, yang hanya menyajikan suatu ilusi tentang kenyataan dan tetap jauh dari kenyataan.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles menyatakan bahwa tiruan itu justru membedakannya dari segala sesuatu yang nyata dan umum karena seni merupakan aktivita smanusia. Dalam sebuah penciptaan sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan melainkan sekaligus menciptakan.

Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani ‘mimesis’ yang berarti ‘meniru’,‘tiruan' atau ‘perwujudan’. Dalam hubungannya dengan kritik sastra mimetic diartikan sebagai sebuah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan filsafat dengan kehidupan (Ravertz dalam Qutbi, 2013).

Secara umum, mimetik dapat diartikan sebagai suatu pendekatan yang memandang karya sastra sebagai tiruan atau pembayangan dari dunia kehidupan nyata. Mimetik juga dapat diartikan sebagai suatu teori yang dalam metodenya membentuk suatu karya sastra dengan didasarkan pada kenyataan kehidupan sosial yang dialami dan kemudian dikembangkan menjadi suatu karya sastra dengan penambahan skenario yang timbul dari daya imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam kehidupan nyata tersebut.

Berikut beberapa pengertian mimetik menurut para ahli:
  1. Plato mengungkapkan bahwa sastra atau seni hanya merupakan peniruan (mimesis) atau pencerminan dari kenyataan.
  2. Aritoteles berpendapat bahwa mimetik bukan hanya sekedar tiruan, bukan sekedar potret dan realitas, melainkan telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya.
  3. Raverzt berpendapat bahwa mimetik dapat diartikan sebagai sebuah pendekatan yang mengkaji karya sastra yang berupay auntuk mengaitkan karya sastra dengan realita satau kenyataan.
  4. Abrams mengungkapkan pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra.
Pengertian mimesis (Yunani: perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322), dan dari abad ke abad sangat memengaruh iteori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg dalam Qutbi, 2013).

2. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif ialah pendekatan yang menganggap karya sastra itu sebagai ekspresi, luapan, pikiran, ucapan perasaan segai hasil imajinasi pengarang. Orientasi ini cenderung menimbang karya saatra dengan keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokan dengan visium atau keadaan pikiran dengan kejiwaan pengarang.

Pendekatan ekspresif adalah teori yang memberi perhatian utamanya pada proses kreatif pengarang dalam menciptakan karya sastra. Penyebab utama terciptanya karya sastra adalah penciptanya sendiri. Itulah sebabnya penjelasan tentang kepribadian dan kehidupan pengarang adalah metode tertua dan paling mapan dalam studi sastra (Wellek, 1989: hal 89).

Adapun analisis pendekatan ekspresif Abrams terhadap karya sastra membutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Pengenalan dan pemahaman terhadap obyek yang dianalisis dengan cara membaca dengan cermat karya sastra yang akan dianalisis untuk menemukan masalah-masalah yang penting dalam karya tersebut.
  • Pengumpulan kepustakaan yang mungkin bisa menunjang proses analisis karya sastra agar lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.
  • Pemahaman secara mendalam dan detail mengenai pengarang berdasarkan data-data yang diperlukan, misalnya menelusuri biografi secara lengkap dari dini hingga tumbuh dewasa dan latar belakang kehidupan pengarang supaya bisa menemukan sikap dan ideologi pengarang. Selanjutnya mencari-tahu pengalaman-pengalaman penting yang dialaminya dan membaca karya-karya lain dari si pengarang agar bisa menemukan karakter, psikologis/kejiwaan, pandangan dan pedoman hidup dari si pengarang. Misalnya menemukan ekspresi ketabahan, keteguhan, keimanan, serta kebiasaan pengarang dalam karya sastra yang disampaikan melalui kisah antar tokoh. Pendekatan ekspresif meyakini jika suatu karya sastra memiliki pencipta yang sangat berpengaruh dalam pemaknaan cerita dan hanya menfokuskan diri terhadap pengarang, baik latar belakang kehidupan, psikologis atau kejiwaan maupun sikap dan pandangan hidup si pengarang.
Pendekatan kritik ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam mengungkapkan atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang ketika melakukan proses penciptaan karya sastra. Pengarang menciptakannya berdasarkan subjektifitasnya saja, bahkan ada yang beranggapan arbitrer. Padahal, ekspresif yang dimaksud berkenaan dengan daya kontemplasi pengarang dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan sebuah karya yang baik dan sarat makna.

Para kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, persepsi-persepsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus cenderung menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan penglihatan mata batin pengarang/keadaan pikiranya.

Langkah-langkah dalam menerapkan pendekatan ekspresif adalah sebagai berikut:
  • Seorang kritikus harus mengenal biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
  • Melakukan penafsiran pemahan terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, seperti tema, gaya bahasa/ diksi, citraan, dan sebagainya. Menurut Todorov dalam menafsirkan unsur-unsur karya sastra bisa dengan cara berspekulasi, sambil juga meraba-raba, tetapi sepenuhnya memiliki kesadaran diri, dari pada merasa memiliki pemahaman tetapi masih buta. Artinya, seorang kritikus boleh bebas melakukan penfasiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.
  • Mengaitkan hasil penafsiran dengan berdasarkan tinjauan psikologis kejiwaan pengarang. Asumsi dasar penelitian psikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan kedalam bentuk secara sadar (conscius). Dan kekuatan karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra.

3. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik ialah pendekatan yang menganggap karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu kepada (bagi) pembaca (tujuan keindahan, jenis emosi, atau pendidikan). Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra dalam zaman ataupun sepanjang.

Berdasarkan beberapa literatur yang berkaitan dengan pendekatan pragmatik, ada pula yang menekankan kepada struktur bahasa, aspek makna tertentu, dan hakikat ketergantungan dengan konteks sebagai berikut.
  1. Pragmatik adalah studi tentang hubungan-hubungan antarbahasa dengan konteks yang gramatikalisasi atau dikodekan dalam struktur suatu bahasa.
  2. Pragmatik adalah studi tentang semua aspek makna yang tidak terliput dalam teori semantik.
  3. Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bahasa dengan konteks yang merupakan dasar untuk uraian pemahaman bahasa.
  4. Pragmatik adalah studi tentang kemampuan pemakaian bahasa untuk memadankan kaliamat dengan kontek yang tepat.
  5. Pragmatik adalah studi tentang dieksis, implikasi, prasuposisi, tidak ujar, dan aspek struktur wacana.
Menurut para ahli, pendekatan pragmatik dapat didefinisikan sebagai berikut:
  • Menurut Teeuw (1994), teori pendekatan pragmatik adalah salah satu bagian ilmu sastra yang merupakan pragmatik kajian sastra yang menitik beratkan dimensi pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna terhadap karya satra.
  • Relix Vedika (Polandia), pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang tak ubahnya artefak (benda mati) pembacanyalah yang menghidupkan sebagai proses konkritasi.
  • Dawse (1960), pendekatan pragmatik merupakan interpensi pembaca terhadap karya sastra ditentukan oleh apa yang disebut “horizon penerimaan” yang mempengaruhi kesan tanggapan dan penerimaan karya sastra.
Pendekatan ini menganut prinsip bahwa sastra yang baik adalah sastra yang dapat memberi kesenangan dan kaidah bagi pembacanya dengan begitu pendekatan ini menggabungkan unsure pelipur lara dan unsure dedaktif. Pemanfaatan pendekatan ini harus berhadapan dengan realitifitas konsep keindahan dan konsep nilai dedaktif. Setiap genersai, setiap kurun tertentu di haruskan menceritakan nilai keindahan hal itu tidak berarti bahwa interprestasi hanya subjektif belaka.

4. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif menganggap karya sastra itu sebagai sesuatu yang mandiri, otonom, bebas dari pengarang, pembaca dan bunia sekelilingnya. Orientasi ini cenderung menerangkan karya sastra atas kompleksitas, koherensi keseimbangan integritas, dan saling hubungan antar unsur yang membentuk karya sastra.

Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom, karena itu tulisan ini mengarah pada analisis karya sastra secara strukturalisme. Sehingga pendekatan strukturalisme dinamakan juga pendekatan objektif. Semi (1993: 67) menyebutkan bahwa pendekatan struktural dinamakan juga pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik. Strukturalisme berpandangan bahwa untuk menanggapi karya sastra secara objektif haruslah berdasarkan pemahaman terhadap teks karya sastra itu sendiri. Proses menganalisis diarahkan pada pemahaman terhadap bagian-bagian karya sastra dalam menyangga keseluruhan, dan sebaliknya bahwa keseluruhan itu sendiri dari bagian-bagian.

Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari diri dan niat penulis, dan lepas pula dari efeknya pada pembaca. Mengacu istilah Teeuw (1984: 134), yang penting hanya close reading, yaitu cara membaca yang bertitik tolak dari pendapat bahwa setiap bagian teks harus menduduki tempat di dalam seluruh struktur sehingga kait-mengait secara masuk akal (Pradotokusumo, 2005: 66).

Jeans Peaget menjelaskan bahwa di dalam pengertian struktur terkandung tiga gagasan, Pertama, gagasan keseluruhan (whoneles), dalam arti bahwa bagian-bagian menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi (transformation), yaitu struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus-menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Ketiga, gagasan mandiri (Self Regulation), yaitu tidak memerlukan hal-hal dari luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya. Sekaitan dengan itu Aristoteles dalam Djojosuroto (2006: 34) menyebutkan adanya empat sifat struktur, yaitu: order (urutan teratur), amplitude (keluasan yang memadai), complexity (masalah yang komplek), dan unit (kesatuan yang saling terjalin).

Sejalan dengan konsep dasar di atas, memahami sastra strukturalisme berarti memahami karya sastra dengan menolak campur tangan dari luar. Jadi memahami karya sastra berarti memahami unsur-unsur yang membangun struktur. Dengan demikian analisis struktur bermaksud memaparkan dengan cermat kaitan unusr-unsur dalam sastra sehingga menghasilkan makna secara menyeluruh. Rene Wellek (1989: 24) menyatakan bahwa analisis sastra harus mementingkan segi intrinsik. Senada dengan pendapat tersebut Culler memandang bahwa karya sastra bersifat otonom yang maknanya tidak ditentukan oleh hal di luar karya sastra itu. Istilah lainnya anti kausal dan anti tinjauan historis (Djojosuroto, 2006: 35).


Rujukan:

Baligh, Muhammad Jammal. 2014. Pendekatan Ekspresif. Makalah. Universitas Wiralodra. Indramayu.

Djojosuroto, Kinayati. 2006. Pengajaran Puisi Analisis dan Pemahaman. Bandung: Nuansa.

Indriani, Sri. 2015. Analisis Sastra dengan Pendekatan Pragmatik. (Online). https://lotusfeet16.wordpress.com/2015/06/18/analisis-sastra-dengan-pendekatan-pragmatik/ (diakses Januari 2017).

Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Qutbi, dkk. 2013. Pendekatan Mimetik: diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah "Teori Sastra" pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang diampu oleh: Imas Juidah, M. Pd. Makalah. Universitas Wiralodra. Indramayu.

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Teeuw.A. 1984. Satra dan Ilmu Satra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wellek dan Warren. 1989. Teori Kasusastraan. Gramedia Pustaka: Jakarta.

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Pengertian pembelajaran berbasis masalah

Secara garis besar Pembelajaran Berbasis Masalah (PBI) menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
Problem Based Learning

Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problembased learning/PBL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkut-paut) bagi peserta didik, dan memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata).

Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta didik menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru).

Pembelajaran Berbasis Masalah menyarankan kepada peserta didik untuk mencari atau menentukan sumber-sumber pengetahuan yang relevan. Pembelajaran berbasis masalah memberikan tantangan kepada peserta didik untuk belajar sendiri. Dalam hal ini, peserta didik lebih diajak untuk membentuk suatu pengetahuan dengan sedikit bimbingan atau arahan guru sementara pada pembelajaran tradisional, peserta didik lebih diperlakukan sebagai penerima pengetahuan yang diberikan secara terstruktur oleh seorang guru.

Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based learning), selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik. PBL adalah suatu model pembelajaran vang, melibatkanpeserta didik untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah.

Untuk mencapai hasil pembelajaran secara optimal, pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah perlu dirancang dengan baik mulai dari penyiapan masalah yang yang sesuai dengan kurikulum yang akan dikembangkan di kelas, memunculkan masalah dari peserta didik, peralatan yang mungkin diperlukan, dan penilaian yang digunakan. Pengajar yang menerapkan pendekatan ini harus mengembangkan diri melalui pengalaman mengelola di kelasnya, melalui pendidikan pelatihan atau pendidikan formal yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar, bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2000:2), pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti pembelajaran proyek, pendidikan berdasarkan pengalaman, pembelajaran autentik, pembelajaran berakar pada kehidupan nyata. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan menfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka.

Pembelajaran berbasis masalah berlandaskan pada psikologi kognitif sebagai pendukung teoritisnya. Fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa (prilaku mereka) melainkan kepada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka) pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Walaupun peran guru pada pelajaran berdasarkan masalah kadang melibatkan presentasi dan penjelasan sesuatu hal kepada siswa, namun yang lebih lazim adalah berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berpikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri.

Pembelajaran berbasis masalah akan ditelusuri melalui tiga aliran pikiran utama abad ke-20.

1) Dewey dan Kelas Demokratis
Seperti pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berdasarkan masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian Johan Dewey. Dalam demokrasi dan pendidikan (1916) Dewey menggambarkan suatu pandangan tentang pendidikan yang mana sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan yang nyata. Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial.

2) Piaget, Vygotsky, dan konstruktivisme
Ahli psikologi Eropa Jean Piaget dan Lev Vygotsky merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme dan diatas konsep inilah PBI kontemporer diletakkan. Jean Piaget (1886-1980) seorang ahli psikologis Swiss, selam 50-tahun lebih mempelajari bagaimana anak berpikir dan proses-proses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual. Piaget menegaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus berusaha memahami dunia di sekitarnya.

Pandangan konstruktivisme kognitif dikembangkan banyak didasarkan pada teori Piaget pandangan ini, seperti halnya Piaget, mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan itu tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun, dan memodifikasi pengetahuan awal mereka.

Menurut Piaget, pedagogi yang baik harus melibatkan anak dengan situasi-situasi dimana anak itu mandiri melakukan eksperimen, dalam arti paling luas dari istilah itu mencoba segala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda, memanipulasi simbol-simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan yang ia temukan pada saat yang lain.

Lev Vygotsky (1986-1934) adalah seorang ahli psikologi Rusia yang karyanya karena sensor komunis tidak banyak diketahui oleh para ahli psikologi Eropa dan Amerika sampai akhir-akhhir ini. Sementara itu keyakinan Vygotsky berbeda dengan keyakinan Piaget dalam berbagai hal. Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui. Oleh semua tahap perkembangan budaya, individu tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya, Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

Satu ide kunci yang berkembang dan ide Vygotsky tentang aspek sosial belajar adalah konsepnya tentang zone of proximal development. Menurut Vygotsky, siswa mempunyai dua tingkat perkembangan, tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual didefinisikan sebagai pemfungsian intelektual individu saat ini dan kemampuan untuk belajar sesuatu yang khusus atas kemampuannya sendiri.

Pentingnya ide-ide Vygotsky dalam pendidikan adalah jelas. Pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dengan guru dan teman sejawat. Melalui tantangan dan bantuan dari guru atau teman sejawat yang lebih mampu.

3) Bruner, dan Pembelajaran Penemuan
Era 1950-an dan 1960-an menunjukkan reformasi kurikulum yang berarti di Amerika Serikat, yang dimulai dengan matematika dan IPA, kemudian meluas ke bidang sejarah, humaniora dan ilmu-ilmu sosial. Pedalogi dari kurikulum baru meliputi pengajaran berdasarkan aktivitas dimana siswa-siswa diharapkan menggunakan pengalaman dan observasi langsung mereka sendiri.

Jerome Bruner, seorang ahli psikologi Harvard adalah salah seorang pelopor dalam era reformasi kurikulum tersebut. Dia dan koleganya menyediakan teori pendukung penting yang kemudian dikenal sebagai pembelajaran penemuan, sesuatu model pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan suatu keyakinan bahwa pembelajaran yang sebenarnya terjadi melalui penemuan pribadi. Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk penemuan siswa. Pembelajaran berbasis masalah, dimulai dengan masalah kehidupan nyata yang bermakna mahasiswa mempunyai kesempatan dalam memilih dan melakukan penyelidikan apapun baik didalam dan diluar sekolah sejauh itu diperlukan untuk memecahkan masalah. Selain itu, karena masalah itu merupakan masalah kehidupan nyata, pemecahannya memerlukan penyelidikan antar disiplin.


Rujukan:
Ibrahim, Muslimin, Nur. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: UNESA University Press.

Pengertian Makna dan Kata serta Pembagiannya [2]

Jenis-Jenis Kata Ulang

Kata ulang terbagi ke dalam empat jenis. Jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pengulangan seluruh bentuk kata dasar atau dwilingga
Pengulangan utuh terdiri atas dua macam. Pertama, perulangan terhadap kata dasar, kedua, perulangan terhadap kata berimbuhan. Contoh:
(1) buah : buah-buahan
(2) gunung : gunung-gunung
(3) kejadian : kejadian-Kejadian
(4) lari : lari-lari
(5) merah : merah-merah
(6) pagi : pagi-pagi


b. Pengulangan sebagian atau dwipurna
Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Dalam hal ini, bentuk dasarnya tidak diulang seluruhnya melainkan sebagian saja. Bentuk dasar pengulangan sebagian ini terdiri atas bentuk kompleks dan bentuk tunggal.
1) Pengulangan sebagian dengan kata dasar bentuk tunggal, yaitu:
(1) laki……… lalaki/lelaki
(2) tamu…… tatamu/tetamu
(3) sama…… sasama/sesama
(4) pohon…… popohon/pepohonan

2)Pengulangan sebagian dengan kata dasar bentuk kompleks, yaitu:
(1) minuman : minum-minuman
(2) makanan : makan-makanan
(3) berlari : berlari-lari
(4) ditusuk : ditusuk-kusuk

Apabila bentuk dasar itu berupa bentuk komplek, kemungkinan bentuknya sebagai berikut:
- Bentuk men-, misalnya:
mengambil : mengambil-ambil
mengemasi : mengemas-emasi
membaca : membaca-baca
melambaikan : melambai-lambai
memperkatakan : memperkata-kata

- Bentuk di-, misalnya:
dikemasi : dikemas-kemasi
ditarik : ditarik-tarik
ditanami : ditanam-tanami
disodorkan : disodor-sodorkan

- Bentuk ber-, misalnya:
berjalan : berjalan-jalan
bertemu : bertemu-temu
bermain : bermain-main
berkata : berkata-kata
berlarut : berlarut-larut

- Bentuk ter-, misalnya:
terbatuk : terbatuk-batuk
terbentur : terbentur-bentur
tersenyum : Tersenyum-senyum
terbalik : Terbalik-balik
terjatuh : Terjatuh-jatuh

- Bentuk ber-an, misalnya:
berlarian : berlari-larian
berjauhan : berjauh-jauhan
bersentuhan : bersentuh-sentuhan
berdekatan : berdekat-dekatan
berpelukan : berpeluk-pelukan

- Bentuk an-, misalnya:
sayuran : sayur-sayuran
karangan : karang-karangan
tumbuhan : tumbuh-tumbuhan
minuman : minum-minuman
makanan : makan-makanan

- Bentuk ke-, misalnya:
kedua : kedua-dua
ketiga : ketiga-tiga
keempat : keempat-empat
kelima : Kelima-lima

c. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembunuhan afiks
Pengulangan ini terjadi bersama-sama dengan proses pembunuhan atiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya kata ulang keteta-keretaan. Ada dua pilihan proses pembentukan kata ulangnya.
kereta : kereta-kereta
kereta : kereta-keretaan

Dari faktor arti, pilihan pertama dan kedua berbeda, bentuk dasar kereta menjadi kereta-kereta mengatakan makna banyak, sedangkan pada kereta-keretaan tidak terdapat makna banyak contoh:
(1) anak : anak-anakan
(2) rumah : rumah-rumahan
(3) orang : orang-orangan
(4) gunung : gunung-gunungan
(5) putih : keputih-putihan
(6) luas : seluas-luasnya

d. Pengulangan dengan perubahan fonem
Pengulangan dengan perubahan fonem adalah pengulangan yang terjadi dengan cara mengulang bentuk dasar disertai perubahan bunyi pada salah satu suku kata, dan biasanya terjadi pada fonem vokal atau fonem konsonan, seperti:
1) Pengulangan fonem vokal, yaitu:
(1) gerak : gerak-gerik
(2) robek : robak-robik
(3) serba : serba-serbi
(4) bolak : bolak-balik

2) Pengulangan fonem konsonan, yaitu:
(1) lauk : lauk-pauk
(2) ramah : ramah-tamah
(3) sayur : Sayur-mayur
(4) tali : tali-mali
(5) beras : beras-petas

Contoh dalam kalimat : ibu sedang memasak lauk-pauk, sayur-mayur yang dibelinya di pasar, Ramlan (1985: 62).

Fungsi Kata Ulang/Reduplikasi
Sebagai salah satu bentuk proses morfologis, maka proses reduplikasi atau pengulangan tidak berfungsi mengubah golongan jenis kata. Dengan demikian, pada umumnya reduplikasi tidak mempunyai fungsi gramatik. Jika ada maka bentuk-bentuk ulang yang mengandung fungsi gramatik hanya terbatas pada beberapa bentuk tertentu saja.
a. Mengubah golongan kata kerja menjadi kata benda
Walaupun pada umumnya perulangan atau reduplikasi tidak mempunyai fungsi gramatik, namun ada juga beberapa reduplikasi seperti contoh berikut ini:
(1) injak : injak-injak (kata kerja)
(2) undur : undur-undur (kata kerja)
(3) karang : karang-karangan (kata kerja)

Bentuk ulang di atas dapat lebih jelas diketahui dalam konteks kalimat seperti dibawah ini :
injak-injak itu merusak
undur-undur itu masih sangat kecil
karang-karangan itu menyenangkan

Bentuk ulang dalam kalimat di atas menduduki unsur subjek. Sebagai subjek bentuk ulang tersebut merupakan golongan kata benda meskipun berasal dari bentuk dasar golongan kata kerja.

b. Mengubah golongan kata sifat menjadi kata keterangan.
Contoh:
(1) rajin menjadi serajin-rajinnya
(2) cepat menjadi secepat-cepatnya
(3) malas menjadi semalas-malasnya

c. Mengubah bentuk tunggal menjadi bentuk jamak
Contoh:
(1) ibu menjadi ibu-ibu
(2) makanan menjadi makanan-makanan
(3) lauk menjadi lauk-pauk

Makna Kata Ulang
Kata Ulang memiliki beberapa makna, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Menyatakan makna banyak
(1) bintang-bintang : banyak bintang
(2) pembangunan-pembangunan : banyak pembangunan
(3) murid-murid : banyak murid
(4) buah-buahan : banyak buah
(5) kemajuan-kemajuan : banyak kemajuan

Makna banyak tidak selalu dinyatakan dengan pengulangan. Misalnya dalam kalimat rumah penduduk banyak yang rusak akibat angin belian.

b. Menyatakan makna banyak
Di sini makna banyak telah berhubungan dengan bentuk dasar, melainkan berhubungan dengan kata yang “diterangkan”. Kata yang diterangkan pada tataran frase menduduki fungsi sebagai unsur pusat, misalnya kata rumah dalam frase rumah besar-besar, dan pada tataran klausa menduduki fungsi sebagai subjek, misalnya kata rumah dalam klausa rumah itu besar-besar. Pengulangan pada kata besar-besar itu mengatakan makna ‘banyak’ bagi kata yang “diterangkan”, dalam hal ini kata rumah.

Contoh lain, misalnya mahasiswa itu pandai-pandai dan pohon di tepi pohon itu rindang-rindang.

c. Menyatakan makna tak bersyarat
(1) meskipun hujan, saya akan datang
(2) jambu-jambu mentah dimakannya
(3) duri-duri diterjang
(4) dararah-darah diminum

d. Mengatakan makna yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar
Proses pengulangan berkombinasi dengan proses pembubuan afiks -an.
(1) kuda-kudaan : yang menyerupai kuda
(3) gunung-gunungan : yang menyerupai gunung
(4) rumah-rumahan : yang menyerupai rumah
(5) kemuda-mudaan : menyerupai (anak) muda

e. Mengatakan bahwa perbuatan yang tersebut pada bentuk dasarnya dilakukan dengan santai
(1) berjalan-jalan
(2) makan-makan
(3) minum-minum
(4) tidur-tidur

f. Mengatakan bahwa perbuatan yang tersebut pada bentuk dasarnya dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai (menyatakan makna saling)
(1) pukul-memukul
(2) tolong-menolong
(3) dorong-mendorong
(4) surat-menyurat
(5) olok-memperolokkan

Makna saling bisa juga dilakukan dengan pembubuhan afiks ber-an.
Bersalam-salaman
berpandang-pandangan
berpukul-pukulan

g. Menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang tersebut pada bentuk dasar.
(1) karang-mengarang
(2) cetak-mencetak
(3) jilid-menjilid
(4) potong-memotong
(5) masak-memasak

h. Menyatakan perbuatan yang pada bentuk dasarnya dilakukan berulang-ulang
(1) berteriak-teriak
(2) memukul-mukul
(3) memetik-metik
(4) menyobek-nyobek

i. Menyatakan makna agak
(1) kemerah-merahan
(2) kehitam-hitaman
(3) kekuning-kuningan
(4) kebiru-biruan

j. Menyatakan makna tingkat yang paling tinggi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afik se-nya (kualitatif).
(1) sepenuh-penuhnya
(2) serajin-rajinnya
(3) sekuat-kuatnya
(4) sedalam-dalamnya
(5) seluas-luasnya

Pengertian Makna dan Kata serta Pembagiannya [1]

Pengertian Makna dan Kata Serta Pembagiannya

1. Makna
Makna adalah maksud suatu kata atau isi suatu pembicaraan atau pikiran. Makna suatu kata diartikan pula sebagai hubungan antara atau lambang-lambang bahasa, baik itu berupa ajaran ataupun tulisan, dengan hal atau barang yang dimaksudnya.

maknadankata

2.Kata
Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dengan makna yang bebas dari definisi tersebut, terdapat dua hal yang menandai sebuah kata yakni:
a. Merupakan satuan bahasa terkecil
b. Mengandung makna yang bebas.

Menurut Kamisa (1997: 288) kata adalah kumpulan dari beberapa huruf yang diucapkan dan mengandung makna sebagai ungkapan perasaan.

3. Bentuk Dasar Kata Ulang
Setiap kata ulang memiliki satuan yang diulang. Satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Misalnya:
rumah-rumah: bentuk dasarnya rumah
sakit-sakit: bentuk dasarnya sakit
rintangan-rintangan: bentuk dasarnya rintangan
dua-dua: bentuk dasarnya dua

4. Kata Ulang
Kata ulang atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan itu disebut kata ulang. Satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Yasin (1988:128) mengatakan bahwa kata ulang atau reduplikasi adalah pengulangan atas suatu bentuk dasar, dan bentuk dasar sebagai hasil pengulangan tersebut dinamakan kata ulang.

Sebuah kata ulang dibentuk dengan berbagai cara, baik pengulangan sebagian bentuk dasar, seluruh bentuk dasar pemberian fonem, ataupun dengan pengulangan berimbuhan. Dengan proses seperti ini, maka tidak semua bentuk kata ulang mempunyai bentuk dasar yang sama, walaupun setiap kata ulang memiliki bentuk dasar yang diulang. Bentuk dasar tersebut merupakan bentuk linguistik.

Menurut Kusno (1986: 58) bahwa kata ulang adalah salah satu bentuk kata jadian yang terjadi karena suatu kata diulang sehingga timbul perubahan makna. Dalam kaitannya dengan proses pembentukan kata ulang. Yasin (1988: 131) mengatakan bahwa pada umumnya bentuk kata ulang tidak menunjukkan golongan kata bentuk dasarnya.

Dengan demikian, apabila bentuk ulang kebetulan merupakan golongan kata benda, maka dapat diketahui pula bahwa bentuk dasarnya juga merupakan golongan kata benda. Seperti anak-anak, mobil-mobilan, baik-baik, buah-buahan, pelan-pelan, kemalas-malasan dan lain-lain. Proses pengulangan ada juga yang berfungsi mengubah golongan kata. Pada kata ulang seperti karang-mengarang, cetak-mencetak, potong-memotong, jilid-menjilid, proses pengulangan mempunyai fungsi sebagai pembentuk kata nominal dari kosa kata, dan pada kata ulang seperti secepat-cepatnya, serajin-rajinnya, setinggi-tingginya, sekuat-kuatnya, proses pengulangan berfungsi sebagai pembentuk kata keterangan dan kata sifat.

Untuk pembahasan selanjutnya, silahkan baca Pengertian Makna dan Kata serta Pembagiannya [2].

Puisi Menurut Strukturalnya

Pada postingan sebelumnya, saya sudah memberikan pengertian puisi menurut beberapa ahli. Postingan kali ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya. Anda boleh membaca artikel Definisi Menurut Ahli.

puisi-01
Dalam pandangan struktural, secara garis besar puisi dapat dianalisis melalui dua hal yaitu struktur fisik (metode puisi) dan struktur batin (hakikat puisi). Pada bagian berikut tulisan ini akan mengemukakan kedua bagian tersebut.

1. Struktur Fisik atau Metode Puisi (Bentuk Puisi)
Unsur-unsur dalam struktur fisik puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yaitu unsur estetik yang membangun struktur luar puisi. Unsur-unsur itu dapat ditelaah satu persatu, tetapi unsur-unsur itu merupakan kesatuan yang utuh. Unsur-unsur tesebut adalah: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), versifikasi, dan tata wajah puisi.
a. Diksi
Diksi atau pilihan kata sangat penting bagi penyair. Penyair harus cermat memilih kata. Sebab kata yang ditulis dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan keudukan kata dalam keseluruhan puisi. Karena begitu pentingnya kata-kata dalam puisi, maka bunyi kata juga dipertimbangkan dengan cermat dalam pemilihannya. Karena pemilihan kata-kata mempertimbangkan berbagai aspek estetis, maka kata-kata yang sudah dipilih oleh penyair untuk puisinya bersifat absoulut dan tidak bisa diganti dengan padanan katanya, sekalipun maknanya tidak berbeda.
b. Pengimajian
Pengimajian adalah kata/susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Baris atau bait puisi itu seolah mengandung gema suara (imaji auditif), benda yang nampak (imaji visual), atau sesuatu yang dapat dirasakan, diraba, atau disentuh (imaji taktil).
c. Kata Konkret
Untuk membangkitkan imaji pembaca, maka kata-kata harus diperkonkretkan. Maksudnya adalah bahwa kata-kata itu dapat menyerankan kepada arti yang menyeluruh. Kata konkret juga erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang. Jika penyair mahir memperkonkretkan kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. Dengan demikian pembaca terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya (Waluyo, 1987).
d. Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif (majas) adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna, kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.
e. Verifikasi
Verifikasi (rima, ritma, dan metrum). Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestra. Ritma sangat erat hubungannya dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Metrum merupakan pengulangan kata yang tetap. Adanya musikalisasi yang sesuai dengan jiwa puisi akan menimbulkan sentuhan yang mendalam pada batin pembaca, disamping mempertinggi puisi tersebut.

Rima di dalamnya mengandung berbagai aspek yang meliputi:
  1. Asonansi atau Runtun Vocal. Asonansi adalah pengulangan bunyi vocal, contoh: pengulangan vocal (e) seperti pada larik puisi ” ke manakah pergi”.
  2. Aliterasi atau Purwakanti. Aliterasi adalah pengulangan bunyi konsonan, contoh: pengulangan konsonan (n) seperti pada larik puisi ”pohon kehilangan daun”.
  3. Rima Akhir. Rima akhir adalah rima yang terdapat pada akhir larik puisi.
  4. Rima Dalam. Rima dalam adalah perulangan bunyi di antara kata-kata dalam satu larik.
  5. Rima Identik. Rima identik adalah pengulangan kata di antara bait-bait puisi.
  6. Tata Wajah. Tata wajah (tipografi) merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi berbentuk bait-bait. Baris puisi tidak bermula dari tepi kiri dan berakhir ditepi kanan seperti pada bentuk prosa. Tata wajah atau tipografi berkaitan erat dengan bentuk yang khas sebuah puisi. Bentuk khas sebuah puisi seringkali berperan penting menciptakan makna tambahan yang memiliki kesan yang memikat.

2. Struktur Batin atau Hakikat Puisi (Isi Puisi)
Ada empat unsur struktur batin atau hakikat puisi, yakni: tema, perasaan penyair, nada dan suasana, dan anamat. Keempat unsur tersebut menyatu dalam wujud penyampaian bahasa penyair.
a. Tema
Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair. Pokok pikiran atau gagasan sentral itu demikian kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapan atau penciptaan sebuah karya sastra. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan, maka puisi bertema Ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, maka puisi bertema kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk memprotes ketidakadilan, maka tema puisi adalah protes atau kritik sosial. Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta atau tema kedukaan hati karena cinta.

Dalam sebuah karya sastra seperti puisi, tema tersebar dalam seluruh elemen pembentuknya. Penyair menggunakan gaya bahasanya, jalan pikirannya, kejadian-kejadiannya, setting atau melukiskan suasana untuk mengarahkan sisi temanya. Seluruh cerita mempunyai satu sisi saja dan yang mempersatukan segalanya adalah tema.

Tema tidak selalu berwujud moral atau ajaran moral, tetapi boleh jadi sebuah kritik pengarang terhadap kehidupan, problem tersebut tidak perlu dipecahkan. Pemecahannya kepada pembaca atau pendengar (Suwardjo dalam Rosliana, 2005: 11).

Tema merupakan ide dasar yang bertindak sebagai titik tolak keberangkatan penyair dalam menyusun suatu puisi, jadi sebelum menulis puisi, seseorang harus sudah menyiapkan tema terlebih dahulu. Bagi pembaca tema baru akan benar-benar jelas apabila pembaca telah memahami cerita dalam puisi tersebut.
b. Perasaan
Perasaan berkaitan dengan suasana perasaan penyair yang diekspresikan yang mungkin dapat dhayati oleh pembaca. Suasana perasaan penyair tidak dapat dilepaskan dari tema puisi tersebut. Dalam puisi-puisi kita jumpai, tampak bahwa perbedaan sikap penyair menyebabkan perbedaan perasaan penyair menghadapi objek tertentu. Sikap simpati dan antipati, rasa senang dan tidak senang, rasa benci, rindu, setiakawan, dan sebagainya menjadi luapan perasaan penyair.
c. Nada dan Suasana
Nada adalah sikap pembaca terhadap pengarang, sedangkan suasana adalah bagaimanakah penyair ketika mengubah puisi itu? Akan sangat memudahkan pembaca mengetahui suasana hati penyair bila diketahui latar belakang terciptanya puisi ini dan latar belakang penyairnya. Penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut dengan nada puisi. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.

Sehubungan dengan suasana ini perlu dipahami dalam suasana bagaimanakah penyair mengubah puisinya itu, suasana haru, hikmat, rindu, pedih, jengkel, atau dalam suasana riang gembira (Hendy dalam Rosliana, 2005: 13).
d. Amanah
Amanat (pesan) merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada dibalik tema yang diungkapkan. Amanat juga kadang diungkapkan secara tersurat, berupa jalan keluar atau jawaban dari persoalan dalam sebuah karya sastra. Secara subtansial tema berhubungan dengan arti sastra sementara amanat berhubungan dengan makna sastra.


Rujukan:
Rosliana. 2005. Analisis Gaya Bahasa dalam Kumpulan Puisi “Deru Campur Debu” Karya Chairil Anwar. Skripsi. Unismuh: Makassar.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga.

Definisi Puisi Menurut Ahli

puisi-01

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat konotatif karena banyak menggunakan makna kias dan makna lambang atau majas. Bahasa yang digunakan dalam puisi mempunyai kemungkinan makna yang lebih banyak dari karya sastra lainnya.

Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan’, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.

Dalam pandangannya, Hudson (dalam Aminuddin, 1995:134) mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Menurut Jassin (dalam Adri, 2007:7) bahwa puisi merupakan penghayatan kehidupan totalitas yang dipantulkan oleh penciptanya dengan segala pribadinya, pikirannya, perasaannya, kemauannya, dan lain-lain.

Puisi merupakan jenis karangan yang penyajiannya sangat mengutamakan aspek keindahan. Keindahan yang terdapat dalam puisi terpancar dalam susunan bunyi dan pilihan katanya. Dalam puisi dikenal adanya rima, irama, dan nada. Istilah-istilah tersebut berkaitan dengan efek keindahan bunyi yang dijalin dalam sebuah puisi. Selain keindahan bunyi, keindahan puisi terdapat pula pilihan dan rangkaian kata yang bergaya merupakan unsur penting lain dalam menciptakan efek estetis. Majas menjadikan larik dan bait-bait dalam puisi hidup, bergerak, dan merangsang pembaca untuk memberikan reaksi tertentu dan merenungkan atas apa yang diungkapkan penyair (Kosasih, 2004:175).

Puisi merupakan karya sastra yang paling mewakili ekspresi perasaan penyair. Bentuk ekspresi ini dapat berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada kekasih, kepada alam, atau Sang Khalik. Oleh karena itu, bahasa dalam puisi akan terasa sangat ekspresif dan lebih padat. Riffaterre (1978:2) memandang puisi sebagai sebuah penggunaan bahasa yang khusus. Anggapan ini menyiratkan bahwa penggunaan bahasa dalam sastra berbeda dengan penggunaan bahasa dalam pergaulan sehari-hari. Meskipun demikian, keduanya terkait secara substantif.

Jika penyair hendak mengagungkan keindahan alam maka sebagai sarana ekspresinya ia akan memanfaatkan imaji-imaji, majas, serta diksi yang mewakili dan memancarkan nuansa makna tentang keindahan alam yang digambarkannya itu. Jika ekspresinya merupakan kegelisahan dan kerinduan kepada Sang Khalik, maka bahasa yang digunakannya cenderung bersifat kontemplatif (perenungan) atau penyadaran akan eksistensinya dan hakikat keberadaan dirinya sebagai hamba Tuhan (Kosasih, 2004:174).

Selain pendapat di atas Herman J. Waluyo berpendapat bahwa, puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya.

Bentuk kesastraan yang paling tua dalam sejarah peradaban manusia adalah puisi, sebab puisi ada sejak manusia mulai ada. Ketika manusia terharu memandang alam yang megah atau mengalami sesuatu yang menggetarkan, setiap kali pula manusia melahirkan kata-kata yang puitis maupun lirik (Waluyo, 1991).

Kata-kata yang berbentuk dan tersusun dengan rapi dan terpilih dengan amat hati-hati tetapi mendukung suasana hati dan pikiran yang hidup terlantar dan menyentuh hati manusia yang lain. Gelora hati yang diucapkan kepada sesama manusia dalam satu seni yang terikat, ketika melakukan sesuatu yang berhubungan dengan suasana batin, senantiasa memulangkan getar hati dari orang yang mendengarnya.

Prinsip puisi adalah berkata sedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin, oleh karena itu untuk memahami arti sebanyak mungkin diperlukan pengetahuan tersendiri dan kepekaan antuisi secara mendalam (Sumardjo dalam Rosliana, 2005: 7).

Berdasarkan uraian dan pendapat tersebut di atas, maka secara sederhana dapat didefinisikan bahwa puisi adalah suatu karya sastra yang mungungkapkan perasaan imajinasi penyair dan dapat meningkatkan pesan dan kesan yang bermanfaat dengan pengkonsentrasian bahasa fisik maupun sekedar bersajak, tidak sekedar bermain bunyi-bunyi bahasa yang berirama, akan tetapi lebih dari itu.

Penyair dengan kemampuan intuisi imajinernya, dan daya ucapnya yang khas, akan bermakna kepada peminat. Fakta-fakta hidup yang dapat diperoleh dalam bentuk cipta puisi tersebut dan nilai-nilai atau amanat yang dapat diraih dari hasil kontenplasi penyair dalam ciptaanya akan diperoleh dalam bentuk cipta puisi yang utuh.


Rujukan:

Adri. 2007. Kajian Semiotik terhadap Puisi Husni Djamaluddin dalam Karyanya “Bulan Luka Parah”. Tesis tidak diterbitkan. Makassar: Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar.

Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Halid, Jihadu Ridha dkk. 2011. Penggunaan Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VII SMP Negeri 5 Liukang Tupabbiring. Makalah PTK.

Kosasih. 2004. Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia. Bandung: CV Yrama Widya.

Riffeterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington & London: Indiana University Press.

Rosliana. 2005. Analisis Gaya Bahasa dalam Kumpulan Puisi “Deru Campur Debu” Karya Chairil Anwar. Skripsi. Unismuh: Makassar.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.